04 Juni 2010
Mengintip Rafflesia Patma Di Kebun Raya Bogor

Jakarta : Rafflesia patma kembali mengundang perhatian pengunjung Kebun Raya Bogor. Bunga raksasa berwarna merah marun muda dengan bercak-bercak krem ini , mekar sempurna sejak Rabu (2/6).
Menikmati kecantikan bunga ini agak sulit , karena tidak dapat ditentukan kapan akan mekar kembali, dan biasanya masa mekar bunga hanya akan berlangsung sekitar 4 hari saja, dan kemudian layu.
Tanaman yang konon mempesona Sir Stamford Raffles dan Dr. Joseph Arnold (penemu Rafflesia arnoldi di belantara Sumatra 1818) ini juga tak bisa tumbuh di sembarang tempat. Tumbuhan ini hanya ditemukan di tempat-tempat sangat spesifik yang menjadi habitatnya. “Pohon ini hidup sebagai benalu alias parasit dan masih belum ditemukan cara untuk membudidayakannya,” ujar Sofi Mursidawati MSc, Peneliti Kebun Raya Bogor di Jakarta, Jumat.
Ditinjau dari garis evolusinya, dalam dunia tumbuhan Rafflesia dikenal sebagai salah satu tumbuhan paling modern karena memiliki strategi bertahan hidup yang canggih dan efisien. Organ-organ vegetatif yang penting seperti daun dan akar tidak dimiliki, namun tubuhnya hanya berupa bunga yang berfungsi sebagai organ reproduksi penerus keturunannya. Cara hidup parasit ditempuhnya sebagai efisiensi dan kompensasi dari ketiadaan daun dan akar yang layaknya dimiliki tumbuhan lain.
Sebagai parasit sejati Rafflesia sama sekali tidak mempunyai klorofil atau butir hijau daun. Akibatnya ia tidak mampu melakukan proses fotosintesis dan seratus persen menggantungkan seluruh hidupnya pada pohon inang.
Karena Rafflesia hidup dan berbiak didalam batang atau akar pohon inang, maka tanaman ini muncul sewaktu-waktu dari bagian dalam tumbuhan inang sehingga ia dikenal juga sebagai tumbuhan endoparasit (endo = di dalam).
Tanaman inang yang ditumpanginya adalah Tetrastigma spp, yaitu sejenis tumbuhan pemanjat yang masih berkerabat dengan anggur. “Rafflesia harus pandai-pandai menjaga diri agar tidak menyebabkan inangnya mati karena inanglah yang menjadi tempatnya makan dan berbiak,” ujar Sofi. Keseimbangan dengan inangnya dijaga dengan melakukan pembatasan jumlah populasinya agar tidak sampai mematikan pohon inang. Rafflesia akan mengurangi jumlahnya sendiri jika terlalu banyak. “Kepandaian Rafflesia menjaga keseimbangan ini diduga menjadi strategi hidup sekaligus penyebab kelangkaannya. Evolusi Rafflesia bersama inangnya sudah berjalan sejak ribuan tahun silam,” ujarnya.
Sofi menambahkan Rafflesia memiliki hubungan yang erat dengan habitatnya sehingga kehidupannya sukar untuk dimanipulasi. “Ia akan tergantung pada ekosistemnya mulai dari pohon inang, serangga penyerbuk, penyebar biji hingga iklim mikro dan makro habitatnya yang sangat spesifik,” ujarnya.
Sejak 2004, bunga Rafflesia Patma berada di Kebun Raya Bogor. Menurut Sofi keberhasilan Kebun raya Bogor dalam memindahkan R. patma kali ini baru merupakan langkah awal dari sebuah pekerjaan besar untuk membuat sebuah populasi Rafflesia yang hidup di luar habitatnya. “Sebagian kehidupan biologisnya masih menjadi misteri bagi para ahli konservasi tumbuhan. Regenerasi, konservasi dan budidaya tumbuhan endemik ini bukanlah sesuatu yang mustahil tetapi sebuah tantangan yang menakjubkan untuk ditelaah secara lebih mendalam,” ujarnya. (Lea)
Menristek: SINas Iptek Dukung Pertumbuhan Ekonomi
Jun 14, 2010
Menristek Suharna Surapranata menegaskan bahwa pembentukan Sistem Inovasi Nasional (SINas) tidak bisa ditawar-tawar lagi. Untuk itu, perlu segera dibangun SINas yang berbasis pada Sistem Nasional Ipte...
Buka Keterisolasian, Dibutuhkan Lebih Banyak Transponder
Jun 10, 2010
Sebagai negara kepulauan, teknologi satelit yang memiliki coverage yang luas merupakan teknologi yang pas untuk Indonesia, khususnya...
Dikembangkan Sistem Informasi Penyebaran Hama Padi
Jun 09, 2010
Selain mengembangkan Sistem Informasi Hujan dan Genangan berbasis Keruangan (Sijampang), Nusantara Earth Observation Network (NEOnet) BPPT juga memanfaatkan data curah hujan dari radar cuaca Dop...
2009 KAN Beri Akreditasi Pada 663 Lembaga
Jun 08, 2010
Jakarta : Hingga akhir tahun 2009, Komite Akreditasi Nasional (KAN) telah memberikan akreditasi pada sekitar 663 lembaga, yaitu 440 laboratorium penguji, 112 laboratorium kalibrasi, 19 lembaga in...
Akses Informasi Hujan dan Genangan Lewat Sijampang
Jun 08, 2010
Jakarta : Nusantara Earth Observation Network (NEOnet) BPPT hari ini meluncurkan Sijampang atau Sistem Informasi Hujan dan Genangan Berbasis Keruangan. Sistem informasi ini bersifat near real time ...
Mengintip Rafflesia Patma Di Kebun Raya Bogor
Jun 04, 2010
Jakarta : Rafflesia patma kembali mengundang perhatian pengunjung Kebun Raya Bogor. Bunga raksasa berwarna merah marun muda dengan bercak-bercak krem ini , mekar sempurna sejak Rabu (2/6).
Men...
Puncak Aktivitas Matahari Terjadi 2014
Jun 03, 2010
Jakarta : Kalangan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) memperkirakan puncak aktivitas matahari diperkirakan akan terjadi 2014.
“ Puncak aktivitas matahari yang sebelumnya diperk...
Penelitian Kopepoda Masih Terbatas
May 31, 2010
Jakarta : Penelitian Kopepoda hingga saat ini masih sangat terbatas. Padahal, plankton yang mendominasi 70-90 persen dari biomassa zooplankton di lautan ini, turut menentukan tingkat k...
Laut Banda Mengalami Kenaikan Suhu Tinggi
May 27, 2010
Jakarta : Laut Banda diidentifikasi sebagai zona wilayah perairan yang terkena dampak kenaikan suhu muka laut ketiga tertinggi setelah S. Pasifik Barat dan L. Arafuru. Dampak kenaikan suhu muka laut...
Stroke Intai Usia Produktif
May 26, 2010
Jakarta : Saat ini terjadi kecenderungan meningkatnya usia produktif (dibawah 40 tahun) menderita stroke. Hal itu ditengarai karena factor gaya hidup yang tidak sehat...